Skip to content
narrow screen wide screen auto screen Increase font size Decrease font size Default font size blue color orange color green color

Paralayang Indonesia

Pengalamanku di Awal Perkembangan Paralayang PDF Print E-mail
Berita & Artikel
There are no translations available.

Sebuah Catatan Yang Terlupakan!
Keinginanku untuk terbang atau terjun sebenarnya sudah lama sekali. Sudah sejak SD aku sudah sering lihat orang terjun, makanya aku juga sangat ingin merasakan serunya terjun dari sebuah pesawat. Maklum masa kecilku smapai aku lulus SMA lebih banyak aku habiskan di Kota Magelang yang dulu terkenal sebagai pusatnya pendidikan tentara. Aku sendiri juga anak kolong, bapakku seorang perwira kesehatan di Batalyon Zipur IV Magelang. Jadi namanya kehidupan tentara, memang mersakan banget, apalagi aku selalu bertempat tinggal di kompleks tentara. Meskipun bapakku tentara ternyata aku sama sekali tak kepincut untuk jadi tentara.

Saat kuliah di UGM sebenarnya ada kesempatan untuk ikutan terjun, cuma jalurnya yang lebih mudah kalau jadi anggota Resimen Mahasiswa. Ah susah juga bagiku karena aku bukan anggotanya, dan terus terang aku juga tidak mau jadi anggotanya. Aku lebih suka jadi anggota kelompok pencinta alam Kapalasastra di Fakultasku dan Mapagama unit pencinta alam di tingkat universitas dari pada jadi menwa. Rasanya memang lebih merdeka. Jalan naik gunung atau nerobos hutan dan nggak harus pakai seragam! Bukannya aku tak suka disiplin.

Yo wis ora sido melu terjun. Akhirnya bisanya cuma nonton, kalau ada orang yang terjun. Di kampus UGM, di lapangan Pancasila kadang-kadang memang digunakan sebagai LZ-nya. Terutama saat ada upacara penerimaan mahasiswa baru. Jadi cukuplah hanya melihat teman-teman dari unit terjun. Aku ada kenalan juga yang suka terjun seperti Ade dan Kisworo yang kuliah di Sospol.

Nyoba Gantolle? Asyik juga kelihatannya, ada teman dari Jurusan Antropologi yang ikutan terbang, cewek, namanya Nina kalau nggak salah. Dia ngeliatin foto-foto saat latihan di Parangtrittis dan Piyungan. Aku sangat tertarik sebetulnya, ada beberapa teman lain yang juga sudah ikutan seperti Reza dari fakultas Sospol. Cuma kayaknya kok susah mau jadi anggotanya. Apalagi kalau mau latihan juga harus iuran dengan besaran tertentu, yang aku terus terang tak mampu bayar, bukan karena mahal, tetapi aku memang tak pernah punya uang banyak. Maklum saat kuliah uang sakuku terbatas. Maklum aku hanyalah seorang anak janda yang harus menanggung 6 orang anak yang harus sekolah semua. Jadi aku harus tahu diri dong. Akhirnya gantolle hanya jadi impian saja buatku, padahal waktu itu gantolle memang lagi seru-serunya. Ikutan PON lagi……


Akhir Desember 1989, Dudy (alm) bercerita dapat pinjeman parasut parapente dari Lody. Aku tahu Lody, cuma nggak begitu kenal. Tentang parapente sendiri aku masih awam sekali, bagaimana cara terbangnya atau mengendalikannya aku sama sekali belum tahu. Tetapi tentang olahraga ini sendiri pada tahun 1988 atau 1989 di TVRI aku pernah lihat beritanya. Effendi Soen yang jadi reporternya waktu itu. Effendi Soen ini juga yang menyebut parapente dengan sebutan terjun gunung di Majalah Hai, aku lupa nomor dan tahun penerbitannya. Di majalah ini Effendi Soen pernah menulis pengalamannya saat terbang tandem bersama seorang penerbang tandem di Chamonix, Perancis.

Kembali ke cerita Dudy, aku langsung bilang ya saat ia mengajakku mencoba latihan bersama. “Ayo Don latihan parapente (baca: parapong), aku disilihi parasut karo Lody,” kata Dudy waktu itu. Dudy memang cukup akrab denganku, berbagai aktifitas aku lalui bersama, baik di kelompok pencinta alam, hoki, atau kegiatan lainnya aku sangat sering bersamanya. Jadi wajar ketika dia punya mainan baru aku yang pertamakali diajaknya. Di tempat kost Dudy di Jalan Timor Timur, Jl. Kaliurang KM 7, ia menunjukkan parasutnya dan manual parasut yang sangat sederhana itu. Juga ada satu buah majalah berbahasa Perancis Parapente edisi perdana yang penuh gambar yang ditunjukkannya. Majalah ini didapat dari teman perancis Dudy yang hoby masuk gua….Cuma aku lupa siapa namanya…..

Melalui gambar-gambar dan manual itulah kita berdua mendapatkan “ilmu terbang” dan mempraktekkan langsung bagaimana caranya mengembangkan parasut. Aku masih ingat, saat ia bercerita saat mencoba untuk mengembangkan parasut Drakkar buatan tahun 1987 di lapangan Mbebeng, Kaliurang pada tanggal 1 Januari 1990. Aku nggak ikutan waktu itu karena harus pulang ke Magelang dan ada urusan keluarga.

Pertamakali aku mencoba adalah di lapangan lembah di sebelah timur kampus UGM bersama Dudy. Cuma susah karena anginnya nggak begitu stabil dan tempatnya di sebuah lembah yang dikelilingi lereng dan pohon-pohon. Tekniknya juga masih ngaco. Ya maklum saja, manualnya hanya dibaca selintas, dan tak ada yang tahu mana teknik yang benar yang harus dilakukan.

Di awal minggu di bulan Januari tahun 1990 itu kita pergi berdua ke Parangtritis naik motor bebek. Dudy di depan aku mbonceng di belakangnya sambil menggendong ransel merah yang berisi parasut. Sampai di Parangkusumo, di pantai yang agak sepi di sebelah barat Parangtritis, kita langsung ground handling. Anginnya lumayan, nggak begitu kencang untuk seorang pemula memulai mengembangkan parasut. Kecepatannya sekitar 10-15 km jam. Bergantian kita mencoba mengembangkan parasut Drakkar yang bentuknya seperti parasut terjun payung. Sel-selnya lebar dan jumlahnya sekitar dua belas.

Rasanya senang sekali saat parasut bisa mengembang di atas kepala, kalau aku yang lagi pegang parasut Dudy yang jadi angker dan sebaliknya. Di pantai ini ada lereng pendek dan drop sekitar 1-1,5 meter. Kita saling dorong untuk mencoba lepas landas. Saat dua kaki lepas dari tanah, meski hanya sesaat girangnya setengah mati. Kadang-kadang kita adu lama-lamaan agar parasut tetap di atas kepala, sementara kaki tetap menjejak tanah. Sambil maju, mundur, geser kiri, atau kanan kita berusaha mempertahankan parasut. Dengan kepala dibalut bandana kita seolah-olah udah jadi penerbang yang handal, padahal yang dilakukan masih merupakan tahapan paling dasar, ground handling.

Tak terhitung berapa kali kita groundhandling seperti ini di Parangtritis. Sampai beberapa kali kesempatan, kita masih saja berkutat dengan kegiatan groundhandling, dan sama sekali belum bisa merasakan terbang tinggi, sampai ketika musibah menimpa Dudy saat berlatih di lapangan Lembah. Gara-garanya mendarat keras saat parasutnya ditarik motor dengan tali sekitar 20 meter. Angin yang berhembus keras memaksa penarik melepas talinya dari motor dan menyebabkan Dudy pendulum di ketinggian yang rendah. Ke dua ankle Dudy retak dan harus di gips saat kembali dari RS Panti Rapih. Aku mendengar kejadian ini saat ke kampus, sepulang dari tempat obyekan di Keraton dari Rudi Gopal, salah satu anggota pencinta alam Fakultas Sastra UGM, Kapalasastra..

Gara-gara kejadian ini Dudy harus istirahat untuk waktu yang cukup lama. Meski tinggal aku sendirian yang latihan, tetapi untunglah teman-temanku banyak yang mau menemani. Pun-pun, Basyir, Dodong, Ade dan Kisworo bergantian menemani ke Paris alias Parang Tritis.

Bukit 15 Meter
Sekarang latihanku pindah ke sisi timur parangtritis di balik warung-warung di boulevard utama parangtirits. Di situ ada bukit pasir setinggi 15 meteran. Tempat ini serign juga dipakai oleh teman-teman gantole dari Klub Gegana Yogyakarta untuk latihan sebelum terbang dari bukit yang lebih tinggi.

Di bukit inilah aku merasakan terbang beneran meskipun hanya untuk beberapa saat. Nggak terhitung berapa kali, aku naik turun bukit ini untuk belajar lepas landas. Saat angin kecil kadang-kadang susah terbang, tetapi saat angin kencang aku sampai terseret-seret. Pohon berduri yang tumbuh disekitar sudah jadi santapan sehari-sehari saat itu.

Tak puas dengan bukit, aku juga mencoba untuk towing di sepanjang pantai parangtritis. Dengan tali static 100 meter pinjaman dari salah satu klub pencinta alam di Yogya itu, aku ditarik dibelakang mobil jimny punya Pun Pun. Aku pikir aku memang nekat pada waktu itu, teknik towingnya benar-benar “ngawur”, tidak pakai pelepas atau release tetapi ujung-ujungnya langsung diikat.

Saat pertama di towing, aku sendiri sangat kaget saat parasut mengembang dan mobil mulai berjalan kencang, karena tiba-tiba aku seperti ditarik menjauh dari bumi, sementara parasut masih berada di belakang badan. Kalau perlahan mungkin tidak menjadi masalah, tetapi karena kencang itulah yang membuat rasanya jadi nggak karuan.

Rasanya sangat lega saat mobil mulai melambat dan parasut mulai tepat di atas kepala dan turun perlahan. Sekarang aku melayang dengan dan turun perlahan dengan parasut drakkar. Tali towing yang dipakai menarik masih tetap menempel di harnesku. Jadi saat itu aku terbang dengan menggendong tali yang panjangnya 100 meter. Kalau ingat saat itu terus terang aku jadi takut karena ternyata apa yang aku lakukan saat itu hanya bermodal nekat. Tetapi kalau tidak begini kapan lagi aku memulai?

Dari beberapa uji coba dan latihan yang berulangkali aku lakukan, aku pun jadi lebih paham bagaimana harus melakukan teknik-teknik untuk terbang dengan parasut parapente ini dengan benar dan aman. Meskipun sebenarnya masih belum bisa dikatakan sempurna, karena memang pada saat itu perkembangan parapente atau parapong masih bayi..bahkan di belahan eropah sana…..

Pantai Parangtritis memang indah dan ia pun menyimpan sejarah sebagai salah satu lokasi awal perkembangan terjun gunung atau yang sekarang lebih dikenal paralayang, karena mulai dari sinilah olahraga ini berkembang dan merambah tempat-tempat lain di Indonesia. (*)